terkadang aku takut menulis namamu. menjadikan inisial karena aku terlalu tersipu malu. itu mungkin akhir dari kalimatku. tak pernah jadi kukirimkan untuk mu. sengaja, agar kamu tau.tanpa harus diberi tahu. senyap dari itu. kamu datang tanpa ragu. yang mencinta menjadi satu. hilang ragu, serta ketidak percayaannya aku.
kami hanya rakyat biasa yang dapur kami diobrak-abrik penguasa. layak kami hidangkan makan untuk nya. sakitnya, sendok-sendok rakus juga mengais sisa. piring kosong dan kotor pun dihinggapi tikus tak tau diri, ditengah meja para pemakai jas dan dasi aku tidak takut tertinggal, tak takut untuk ketinggalan, hanya bagaimana jika semua terus terulang dan tak diingatkan?
ada yang takut dengan lukisan. serta karya tulisan yang mereka kira hantu yang menakutkan. takut dengan lirik-lirik lantang bicara tentang keras sindiran. namun tidak dengan tuhan. lisan yang pandai menyangkal mata yang buta dengan isyarat gamblang hati yang hilang haus akan kekuasaan pedangmu bengkok tuan, Tak ada otak kiri ataupun kanan. bicara apa kau! telinga yang pura-pura tuli membungkam atas suara yang lantang, namun bisik tak bisa dibungkam. keegoisan, menyangkal kenyataan. takut akan kehilangan kekayaan dan menerima kemiskinan. juga penyangkalan-penyangkalan bodoh pengikutnya. membuat diri mereka buta. membuat diri mereka tuli dengan angin bicara yang ada. saling tunjuk atau saling menutup. yang miskin disogok, yang kaya tak ada otak.